14 January 2008 (Jakarta, 23.30)
Stress. Satu kata yang sangat sering kita dengar, bahkan mungkin beberapa dari kita sering mengalaminya. Aku tidak begitu memahami kondisi tersebut. Mungkin karena tidak pernah mengalami kondisi tersebut penulis dapat berkata demikian. Tapi hal tersebut sepertinya tidak mungkin, benarkah? Hal tersebut disebabkan karena stress adalah suatu kondisi dimana secara fisik atau mental, seorang individu menghadapi tekanan (besar atau kecil). Tekanan tersebut muncul karena individu yang bersangkutan dihadapan pada suatu permasalah aktual. Sebagaimana telah dipahami oleh kebanyakan manusia bahwa dalam kehidupan individu selalu berhadapan dengan masalah. Karena tidak ada individu yang bebas dari masalah maka dapat dikatakan bahwa tidak ada individu yang bebas dari stress, sebuah logika sederhana.
Permasalahan berikutnya adalah, apakah ada suatu cara tertentu untuk menghindari stress? Jika stress adalah kondisi yang sudah pasti ada, maka hal tersebut tentu tidak dapat dihindari atau dicegah. Akan tetapi, meski tidak dapat dicegah stress bisa diatasi. Cara untuk mengatasinya sangat bergantung pada kemampuan masing-masing individu dalam menghadapi tekanan yang muncul disebabkan oleh masalah yang dihadapi. Artinya, cara untuk mengatasi stress erat kaitannya dengan kemampuan untuk memecahkan suatu masalah (terlalu cepat mengambil kesimpulan? Karena tidak semua stress teratasi dengan terselesaikannya masalah saja. Cara seperti konseling, bimbingan rohani, bicara dari hati hingga hal-hal yang bersifat rekreatif seperti belanja, liburan, tamasya, sex, dunia malam serta minuman keras dan obat-obatan terlarang juga dipilih oleh sebagian orang guna meredakan stress yang mereka derita). Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah setiap masalah selalu dapat diatasi? Pasti, setidaknya begitulah hipotesis yang dimiliki penulis (perlu diketahui bahwa hipotesis ini didasarkan dan bertumpu pada kekuatan individual semata atau potensi diri). Meski ada beberapa pendapat yang menyatakan sebaliknya dan menyebut hal tersebut sebagai mitos.
Ampun deh. Padahal niatnya mo curhat nih. Gak tau deh, yang jelas saat ini aku ngerasa suntuk banget. Mo ngapain aja rasanya udah ga ada semangat. Mo curhat juga ga ada yang mo denger. Mungkin masih ada, tapi yang jelas gak ada yang paham dan bisa ngerti. Sumpah, sekarang aku lagi ngerasa sendiri, sepi dan tidak berarti. Aku pernah denger ada yang bilang kalo proses pendewasaan seorang lelaki adalah melalui kesendirian (berjuang dengan tenaga dan pikirannya sendiri). Asli kedengaran cuma omong kosong. Aku merasa pusing, muak, mual dan ingin muntah. Gejala (penyakit) apa ya? Yang jelas aku gak sedang jatuh cinta. Everything that I hold dearly starts to slips away for every now and then.