Alliance?
“Sebuah kabar politik yang mencengangkan dimunculkan oleh dua partai besar di negeri ini. Pertengahan Juni yang lalu, PDI-P dan Partai Golkar mendeklarasikan koalisi kebangsaan. Keduanya sepakat menggalang kerja sama dalam menghadapi Pemilu 2009. PDI-P dan Partai Golkar yang memiliki basis pemahaman ideologis yang sepakat kepada upaya mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan UUD 1945 sebagai dasar negara, mencoba memulihkan semangat aliansi taktis politis” (suara merdeka, 26-06-07).
Apa makna aliansi yang sedang diusahakan oleh dua partai ini? Koalisi orang-orang frustasi (Wimar W) kah? Aliansi taktis kah?
Dalam hemat saya, tindakan para elit kedua partai tersebut tidak dapat lepas dari pragmatisme politik yang selalu beriring bersama dengan elit dan politisi negeri ini. Berita terakhir yang menyebutkan bahwa Megawati secara resmi telah menyetujui pencalonan dirinya oleh PDIP dalam pemilu 2009, menguatkan dugaan saya bahwa koalisi yang dibangun oleh Golkar dan PDIP tersebut bertujuan konstruktif. Dalam arti bahwa motivasi koalisi adalah hancurnya tatanan multi partai yang ada saat ini, dan menghadirkan tatanan baru bagi kepolitikan di Indonesia dengan hanya menyisakan dua atau tiga partai saja (dua slot telah diusahakan untuk diisi oleh Golkar dan PDIP). Pragmatisme tersebut kemudian dapat dibaca dengan jelas, yaitu “status quo”.
Memang benar, kekuasaan adalah esensi politik, dan dengan demikian tindakan Golkar dan PDIP untuk melanggengkan kekuasaan mereka dapat dilihat sebagai sesuatu yang wajar (meski tidak harus diamini). Dan memang benar juga, apa yang dikatakan oleh elit kedua partai tersebut bahwa mereka bekerja (koalisi itu) “for the greater good”, tapi yang jelas thats not the greatest one. Bukan kebangsaan yang ingin mereka jaga, tapi bendera kebangsaan (slogan, doktrin dan ideologi kedua partai tersebut) yang mereka pertahankan. Hal tersebut menerangkan betapa rakusnya orang-orang itu.
(Anyone may correct me if I am wrong, Thqs)